Skalanews - Korea
Utara akan mengadopsi sistem kekuasaan kolektif
yang kuat di mana Kim Jong-un yang ditunjuk ayahnya Kim Jong-il akan memerintah
Korea Utara didampingi militer dan pamannya.
Menurut sumber-sumber
yang memiliki hubungan dekat dengan Beijing dan Pyongyang, kematian Kim Jong-il
tak akan mempengaruhi stabilitas di Korea setelah militer tegas-tegas
menyatakan dukungannya pada Jong-un.
Kakak ipar Kim
Jong-il, Jang Song-thaek, 65
dipandang sebagai kekuatan di balik tahta bersama istrinya, Kim
Kyong-hui, adik Kim Jong-il.
Beberapa
analis menyebut kurangnya pengalaman Jong-un akan membatasi kemampuannya untuk
mengkonsolidasikan kekuasaan hanya ditangannya. Meski, dia dianggap memiliki sebuah
kelompok pendukung di sekitar dirinya yang
berasal dari generasinya.
“Jadi kekuasan di Korea tidak sepenuhnya berada di tangan orang tua berusia 70
tahun, ditambah beberapa seperti Jang berusia 60-an. Pendukung muda yang
cukup akan segera muncul,” kata Koh Yu-hwan, presiden dari studi Asosiasi Korea Studi Korea Utara
di Seoul.
Reformasi ala Cina
Ralph Cossa, otoritas Korea Utara dan kepala Forum Pasifik CSIS lembaga think thank AS mengatakan
masuk akal bahwa kelompok yang berkuasa akan tetap bersama-sama.
“Semua
memiliki kepentingan dalam kelangsungan hidup rezim,” katanya. “Keselamatan
pribadi mereka dan kelangsungan hidup adalah terkait erat dengan kelangsungan
hidup rezim dan Kim Jong-un adalah manifestasi dari ini saya pikir rezim akan
tetap stabil, setidaknya dalam jangka pendek..”
Dengan masuknya generasi muda, tampaknya
ada beberapa harapan, terutama yang berasal dari Beijing, bahwa Kim Jong-un
akan membawa Korea Utara mengikuti reformasi gaya Cina. “Siapa
tahu, ini mungkin benar. Ini bisa
meringankan penderitaan rakyat Korea Utara dan akan melakukan ada
harapan untuk denuklirisasi.”
Namun, sehari
setelah kematian Kim Jong-il, akhir pekan lalu. Hari, Senin lalu militer Korea
menembakkan rudal uji coba untuk memperingatkan Amerika Serikat agar
tidak membuat gerakan.
“Dengan
uji coba rudal, Korea ingin menyampaikan pesan bahwa mereka memiliki kemampuan
untuk melindungi diri mereka sendiri.”
Dia
menambahkan ‘peringatan’ itu hanya terbatas pada ujicoba rudal dan tak akan
meningkat menjadi uji coba nuklir dalam waktu dekat kecuali diprovokasi oleh Amerika Serikat dan Korea
Selatan. Program nuklir Korea selama ini menjadi sumber
ketegangan yang mengganggu bagi
masyarakat internasional.
Korea melakukan
tes nuklir tahun 2006 dan 2009, dan memutuskan
keluar dari pembicaraan
enam pihak dengan Korea Selatan, Amerika Serikat, China, Jepang dan Rusia. Tak hanya itu, Korea juga mencampakan Perjanjian
Non-Proliferasi Nuklir ke tong sampah.
News Hit Counter : 234